Minggu, 23 Desember 2012

Peran Ilmu Kimia dalam Bidang Pangan


                 Jika kita menyebut nama “kimia” sepertinya sudah tidak begitu asing lagi dengan telinga kita. Memang, kimia sudah begitu akrab dengan kehidupan kita, terkhusus kehidupan anak sekolah, dari SD, SMP, SMA, sampai di bangku perkuliahan. Kimia merupakan salah satu cabang dari ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan atom, molekul, unsur, maupun senyawa yang ada di bumi ini, serta gejala – gejala kimia yang disebabkannya.
            Terlepas dari segala macam definisi yang terkandung di dalamnya, kimia bukan hanya sekedar buku tebal yang harus setiap malam dihafalkan oleh setiap anak. Namun, kimia adalah tentang bagaimana mengaplikasikan ilmu sedemikian rupa tersebut menjadi hal yang bermanfaat di dunia nyata.

  “Lalu, sudahkah ilmu kimia memberikan manfaat bagi kita?”

            Jelas. Pertanyaan ini sudah tidak diragukan lagi jawabannya. Ya, kimia sudah banyak sekali memberikan manfaat kepada kehidupan kita. Manfaat kimia sudah memasuk segala sektor kehidupan, misalnya dal bidang industri, energi, lingkungan hidup, kesehatan, pertanian, dan pangan. Pangan? Bagaimana ilmu kimia bisa berhubungan dengan bidang pangan? Bisa memberikan manfaatnya ke dalam ilmunya pula. Tentu hal ini terlihat sangat menggelitik bagi orang - orang yang belum mengenal kimia. Mereka akan berfikiran bahwa ungkapan tersebut bukan merupakan sebuah fakta. Mana bisa larutan larutan kimia yang berbahaya itu bermanfaat untuk pangan? Mana bisa reaksi reaksi kima yang begitu luar biasa itu dapat menguntungkan kita? Hal ini bisa saja melayang dalam pemikiran orang – orang tersebut. Namun, jika orang yang telah mengenal kimia, mereka sangat setuju dengan manfaat yang diberikan oleh kimia. Mengapa bisa demikian? Hal ini dapat terjadi karena mereka telah mengenal reaksi reaksi kimia yang bermanfaat dan juga merugikan.

            Taukah kalian tentang zat aditif yang  biasanya digunakan dalam masakan? Zat aditif tersebut merupakan produk dari “ilmu kimia”. Zat Aditif makanan atau bahan tambahan makanan adalah semua bahan kimia yang dimasukkan dalam makanan guna untuk meningkatkan kualitas, keenakan, keunikan makanan, dan lain-lain. Zat aditif sangat diperlukan dalam kehidupan kita, untuk menambah cita rasa makanan yang kita masak. Bisa kita perkirakan bahwa seseorang tentu tidak akan punya selera untuk memakan sayur sop yang tidak digarami atau bubur kacang hijau yang tidak memakai gula. Dalam hal ini, garam dan gula termasuk bahan tambahan. Keduanya termasuk jenis zat aditif makanan. Zat aditif bukan hanya garam dan gula saja, tetapi masih banyak bahan-bahan kimia lain. Zat aditif makanan ditambahkan dan dicampurkan pada waktu pengolahan makanan untuk memperbaiki tampilan makanan, meningkatkan cita rasa, memperkaya kandungan gizi, menjaga makanan agar tidak cepat busuk, dan lain sebagainya. Bahan aditif makanan ada dua, yaitu bahan aditif makanan alami dan buatan atau sintetis Berdasarkan fungsinya, baik alami maupun sintetik, zat aditif dapat dikelompokkan sebagai zat pewarna, pemanis, pengawet, penyedap rasa, pemutih, anti kempal, anti oksidan, pengatur keasaman, pengemulsi, pemantap dan pengental.
            Tidak semua produk yang dihasilkan dalam ilmu kimia dapat berjalan dengan lancar. Begitu pula dengan zat aditif, bahan aditif juga bisa membuat penyakit jika tidak digunakan sesuai dosis, apalagi bahan aditif buatan atau sintetis. Penyakit yang biasa timbul dalam jangka waktu lama setelah menggunakan suatu bahan aditif adalah kanker, kerusakan ginjal, dan lain-lain. Maka dari itu pemerintah mengatur penggunaan bahan aditif makanan secara ketat dan juga melarang pengguanaan bahan aditif makanan tertentu jika dapat menimbulakan masalah kesehatan yang berbahaya. Pemerintah juga melakukan berbagai penelitian guna menemukan bahan aditif makanan yang aman dan murah.
            Kegunaan lain ilmu kimia dalam bidang pangan adalah kimia organik, yaitu seperti karbohidrat, protein, lemak, enzim, vitamin, mineral, serat dan lain sebagainya. Karbohidrat sendiri terdiri dari 80% total konsumsi manusia, karbohidrat yang paling umum dikenal manusia adalah pati. Jenis karbohidrat yang paling sederhana adalah dari jenis monosakarida, yaitu glukosa, fruktosa, galaktosa, manosa, sorbosa, dan sebagainya. Rangkaian monosakarida akan membentuk sakarida lain yang lebih besar, yaitu polisakarida (rantai panjang), oligosakarida (rantai pendek), dan disakarida (dua molekul monosakarida). Nilai kalori karbohidrat adalah 4 kilokalori per gram. Karbohidrat dapat digunakan sebagai sumber energi setelah melalui proses kimia di dalam tubuh yang memecah karbohidrat rantai panjang (polisakarida) menjadi monosakarida, mislanya glukosa. Glukosa dibakar di dalam tubuh untuk menghasilkan energi, dengan reaksi C6H12O6 + 6O2 → 6CO2 + 6H2O. Reaksi ini tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui kurang lebih 50 tahap reaksi.
            Setelah itu adalah protein, protein merupakan makromolekul yang sangat kompleks. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi sel. Protein dalam tubuh berfungsi sebagai zat pembentuk jaringan tubuh, pengatur, dan sebagai sumber energi. Selain itu, protein juga berguna sebagai bahan pembentuk membran sel dan sebagai pembentuk enzim. Dalam bahan pangan, protein merupakan zat yang penting dalam pertumbuhan dan ketahanan hidup. Kebutuhan terhadap protein berbeda bagi setiap orang tergantung keadaan fisiologisnya. Protein dalam bahan pangan umumnya ditemukan pada kacang-kacangan, produk daging, dan makanan laut.
            Jika bicara tentang lemak, merupakan ester dari gliserol dan asam lemak. Lemak umumnya dibedakan menjadi lemak hewani dan lemak nabati. Lemak berguna untuk membentuk sel otak dan membran sel, sebagai cadangan energi, pengatur suhu tubuh, dan pelindung organ. Selain yang telah disebutkan diatas tentang manfaat ilmu kimia dalam bidang pangan tersebut, tentunya masih banyak lagi manfaat yang diberikannya. Setelah melihatnya sendiri pasti orang yang belum mengenal kimia akan mencoba mengenali tentang ilmu tersebut.
Enzim adalah katalis biokimia yang berperan dalam proses konversi dari satu zat ke zat lainnya. Sebagai katalis, enzim berperan penting dalam mengurangi waktu reaksi kimia di dalam tubuh. Banyak industri pangan yang memanfaatkan enzim dalam prosesnya, seperti pembuatan bir, industri susu, dan sebagainya. Dalam industri-industri tersebut, enzim didapatkan dari aktivitas mikroba yang ditambahkan di dalam bahan pangan sehingga zat yang terdapat dalam bahan pangan mengalami perubahan.
Mineral dalam bahan pangan amat bervariasi dan dibutuhkan oleh tubuh karena memberikan manfaat tertentu. Namun tidak semua mineral di alam dibutuhkan oleh tubuh, sebagian justru berbahaya walau dalam jumlah yang sedikit, misalnya arsen. Mineral yang dibutuhkan oleh tubuh pun tidak boleh dikonsumsi berlebih karena dapat mengganggu kesehatan, misalnya natrium, yang dalam kadar berlebih dapat menyebabkan hipertensi. Hampir semua mineral yang dibutuhkan tubuh bisa ditemukan dalam makanan.
Serat yaitu bagian dari tanaman, umumnya merupakan rantai glukosa seperti selulosa, yang tidak dicerna oleh tubuh. Serat bermanfaat dalam proses pencernaan, membantu pergerakan bahan makanan dan tinja di dalam usus sehingga tidak terlalu lama berada di dalam tubuh.
Saat ini, tingkat konsumsi serat masyarakat berkurang karena sebagian besar makanan diproses berlebihan dan dibuang bagian yang berseratnya. Misalnya beras, dari gabah yang digiling, kemudian disosoh agar menjadi putih. Beras sebelum disosoh mengandung serat yang tinggi, sedangkan beras putih yang saat ini beredar memiliki kadar serat yang sangat sedikit. Begitu juga dengan gandum, yang saat ini sedang kembali dipopulerkan konsumsi gandum utuh (whole wheat) guna meningkatkan konsumsi serat masyarakat.
Begitu banyaknya manfaat yang diberikan oleh ilmu kimia dapat memberikan kesadaran kepada kita agar semakin mengembangkan dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan tersebut sehingga dapat memberikan manfaat lebih lagi bagi kehidupan di dunia ini. Selain mengembangkan, hendaknya kita juga dapat menciptakan alat pencegahan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh pemakaian bahan – bahan kimia merata ke segala sektor terkhusus pada sektor lingkungan hidup, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;